kembali saya mempublikasikan tulisan dari orang yang saya anggap salah satu guru seaktu saya masih tinggal di manado, beliau saat ini berada di Pontianak bersama keluarga. mudah-mudahan bapak dan keluarga sehat selalu.amiin
Kalau kita mendengar kata bangkai tentu yang ada dibenak kita adalah barang mati, apakah itu bangkai binatang atau mungkin bangkai manusia yang tidak ditimbun dengan benar sehingga menimbulkan aroma bau busuk, jadi bangkai itu adalah mahluk hidup yang sudah mati tapi tidak ditanam dan hanya dibiarkan begitu saja sehingga aroma bau busuknya tercium oleh mahluk lain yang masih hidup, apakah itu binatang ataupun manusia.
Tapi yang paling mengerikan adalah apabila kita melihat bangkai itu berjalan dan ini nyata, bukan seperti difilm-film fiksi yang memvisualkan sosok zombi,vampir atau kuntilanak yang suka berjalan dimalam hari, untuk bangkai yang satu ini dia akan keluar kapan saja dia mau, bahkan tanpa kita sadari dia telah berada disamping kita dengan wujud yang nyata sedang berbincang-bincang dengan kita diselingi dengan makanan ringan yang kadang-kadang juga dicampur dengan bangkai dan yang paling sadis yang dimakan adalah bangkai manusia.
Wah !. Sungguh sangat sadis dan mengerikan, jangan-jangan kita sendiri yang tanpa kita sadari kita telah menjadi bangkai, meskipun kita masih hidup karena nafas kita masih terasa naik turun, tapi apa mungkin manusia yang masih hidup bisa menjadi bangkai ?. ya bisa saja namanya bangkai berjalan, ciri-cirinya yang paling menonjol adalah apabila hatinya sudah busuk bukan karena sirosis tapi busuk hati namanya dan kalau penyakit busuk hati ini sudah kronis dia akan menyerang kebagian lain terutama ketelinga, mata dan mulut karena apabila dia mendengar tetangga mendapatkan
keberkahan dari Sang Khalik, telinganya langsung pekak dan gedang telinganya pecah sehingga mengeluarkan bau busuk dari lobang telinganya dan ia pun menjadi tuli, matanya merah sampai bola mataya mau lepas karena saking panasnya melihat keberkahan yang diperoleh tetangganya sehingga tanpa disadarinya matanya mengeluarkan tai mata alias belekan dan kemudian menjadi buta, mulutnya pun menyebarkan aroma bau busuk karena iri dengki dan mulailah dia berghibah fitnah kepada saudaranya sendiri dengan menyebarkan gosip murahan yang pada saat itu saudaranya tidak tau karena dia bagaikan orang mati yang kalau diperlakukan dengan cara bagaimanapun dia pasti tidak akan melawan dan tidak ada pembelaan, ini sangat mengerikan dan ini harus dihentikan kalau tidak bangkai itu akan bergentayangan mencari mangsa dan memakan saudaranya yang mati, sampai-sampai Rasulullah SAW pada saat menjelaskan hal sipemakan bangkai ini, beliau mengekspresikan mimik wajah seperti orang jijik, karena siapapun dia pasti akan merasa jijik apalagi yang dimakan bangkai saudaranya sendiri, semoga kita tidak termasuk dalam kategori bangkai berjalan yang suka memakan bangkai saudaranya sendiri.
Read More..
Selasa, 20 Maret 2012
Senin, 19 Maret 2012
(Game) Bilyard : Arcade Pool
kali ini saya cuma mau sharing game kesukaan saya :)
ada beberapa game classic yang menurut saya bisa dijadikan sebagai pelepas stress disaat pekerjaan saya menumpuk. salah satunya adalah game Arcade Pool. game tersebut adalah game bilyard, disini dituntut keterampilan bagi pemain karena para pemain yang disetting oleh komputer sangat jago diantaranta Darren Apleton dan Mario Savoia. dalam 10 X permainan saya cuma bisa mengalahkan mereka 1 x dan itupun seperti disengaja.
game bilyard ini sangat berbeda dengan bilyard yang lainnya, pokoknya seru. kalau sudah bermain, sampai lupa kerjaan. hehehhe
penasaran ? langsung saja download disini via Mediafire Read More..
Jumat, 08 Juli 2011
Sejarah Singkat Kecamatan Marioriawa Soppeng
Mario Riawa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia. Kecamatan Mario Riawa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Soppeng, yang dahulunya merupakan sebuah kerajaan mandiri dan berdiri sendiri dalam naungan konfaderasi kerajaan Watan Soppeng (soppeng). Walaupun Marioriawa berada dalam naungan Konfaderasi Watan Soppeng. Pada Masa pemerintahan La Pawiseang Datu Soppeng VII, Marioriawa keluar dari Konfaderasi tersebut dan Marioriawa bergabung ke dalam Konfaderasi Kerajaan Wajo pada saat itu di pimpin oleh Arung Matoa Wajo Lataddampare. Marioriawa pada masa itu diperintah oleh Lapaiyo Datu Marioriawa dan beliau meninggal di Lagosi daerah kerajaan Wajo, sehingga Lapaiyo diberi gelar anumerta yaitu Lapaiyo Datu Marioriawa Matinroe Ri Lagosi, Kerajaan Mario Riawa terdiri dari tiga Pabbicara dan satu Sullewatang, yakni Pabbicara Manorang Salo, Pabbicara Attang Salo, Pabbicara Bulue dan Sullewatang Padali. masing-masing Pabbicara terdiri dari beberapa Matoa. di Bulue terdapat Matoa Panci, Galungkalungnge. Di Manorang Salo terdapat Matoa Welongnge dan Matoa Tanete. Di Antang Salo terdapat Matoa Lompoe, Matoa Kaca dan Matoa Bunne. Sedangkan Sullewatang Padali tidak mepunyai Matoa karena posisinya seperti Datu Mario Riawa walaupun statusnya di wilayahnya sama dengan Pabbicara (istilah sekarngnya walikota Administratif). Datu Terahir di Marioriawa adalah Datu Mappejanci (Andi Mapejanci-raja soppeng sekarang - 2009), Pabbicara terakhir di Attang Salo adalah La Pariwusi (Andi Pariwusi Daeng Mapadeng Pabbicara Attang Salo. Matoa terakhir di Lompoe adalah Andi Wakka daeng Mawakka.
Setelah Terbentuknya Kerajaan Soppeng menjadi Kabupaten Soppeng, maka Status Kerajaan marioriwa-pun ikut berubah menjadi Kecamatan Marioriawa, masuk dalam administrasi kabupaten soppeng, adapun Pabbicara berubah menjadi Kelurahan dan Desa, dan seiring dengan adanya pemekaran maka kelurahan dan desapun bertambah sebagai berikut, Kelurahan Manorang Salo, Kelurahan Attang Salo, kelurahan Batu-Batu, Kelurahan Kaca, Kelurahan Limpongmajang, Desa Bulue, Desa Laringgi, Desa Panincong, dan Desa Patampanua, dan Desa Tellu Limpoe.
PENINGGALAN SEJARAH
Ada beberapa situs yang terdapat di Kecamatan Marioriawa, diantaranya Komplek Pekuburan raja Marioriawa dan Bangsawan lainnya di Jerak'e Madining Kelurahan Attang Salo, Komplek Komplek Pekuburan raja Marioriawa dan Bangsawan lainnya di Jerak'e Panci Desa BuluE.
Disamping Situs-sitis ada beberapa obyek wisata diantaranya, Pemandangan alam Danau Tempe dengan beberapa aktraksi lomba Perahu yang disebut Maccerak Tappareng di Kelurahan Limpong Majang, Kelurahan Kaca dan Desa Patampanua. Attaraksi Mappadendang dan Mattojang dalam rangka pesta Panen Raya hampir di semua Kelurahan dan Desa. Komplek Rumah Adat "Sao Mario" di Kelurahan Manorang Salo serta Permandian Air Panas Lejja di Desa BuluE.
sumber : Wikipedia
Read More..
Setelah Terbentuknya Kerajaan Soppeng menjadi Kabupaten Soppeng, maka Status Kerajaan marioriwa-pun ikut berubah menjadi Kecamatan Marioriawa, masuk dalam administrasi kabupaten soppeng, adapun Pabbicara berubah menjadi Kelurahan dan Desa, dan seiring dengan adanya pemekaran maka kelurahan dan desapun bertambah sebagai berikut, Kelurahan Manorang Salo, Kelurahan Attang Salo, kelurahan Batu-Batu, Kelurahan Kaca, Kelurahan Limpongmajang, Desa Bulue, Desa Laringgi, Desa Panincong, dan Desa Patampanua, dan Desa Tellu Limpoe.
PENINGGALAN SEJARAH
Ada beberapa situs yang terdapat di Kecamatan Marioriawa, diantaranya Komplek Pekuburan raja Marioriawa dan Bangsawan lainnya di Jerak'e Madining Kelurahan Attang Salo, Komplek Komplek Pekuburan raja Marioriawa dan Bangsawan lainnya di Jerak'e Panci Desa BuluE.
Disamping Situs-sitis ada beberapa obyek wisata diantaranya, Pemandangan alam Danau Tempe dengan beberapa aktraksi lomba Perahu yang disebut Maccerak Tappareng di Kelurahan Limpong Majang, Kelurahan Kaca dan Desa Patampanua. Attaraksi Mappadendang dan Mattojang dalam rangka pesta Panen Raya hampir di semua Kelurahan dan Desa. Komplek Rumah Adat "Sao Mario" di Kelurahan Manorang Salo serta Permandian Air Panas Lejja di Desa BuluE.
sumber : Wikipedia
Read More..
Tokoh Bugis La Maddukelleng
LA MADDUKKELLENG adalah putera dari Arung (Raja) Peneki La Mataesdso To Ma’dettia dan We Tenriangka Arung (Raja) Singkang, saudara Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenrirua (1713-1737). Karena itulah La Maddukkelleng sering disebut Arung Singkang dan Arung Peneki.
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam (mappabbitte).Pada saat berlangsungnya pesta sambung ayam tersebut, ayam putera Raja Bone mati dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut sama kuatnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan. Pada saat itu La Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut yang mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang Wajo-Bone di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan belum sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di wilayah kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri melalui Sungai Walennae.
Setibanya Arung Matowa Wajo La Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng diserahkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya (dianggap bersalah). Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng tidak kembali ke Wajo sejak peristiwa di Cenrana. Utusan raja Bone itu kembali sekalipun ia yakin bahwa La Maddukkelleng masih berada di daerah Wajo, namun tidak dapat berbuat banyak karena adanya ikrar antara Bone, Soppeng dan Wajo di Timurung pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling mempercayai.
La Maddukkelleng datang menghadap dan meminta restu Arung Matowa Wajo dan Dewan Pemerintah Wajo (arung bentempola) untuk berlayar meninggalkan daerah Wajo. Saat itu bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung tempat penyimpanan harta kekayaan di sebelah timur masjid Tosora serta gedung padi di tiga limpo. Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (La Tenri Wija Daeng Situju) berpesan agar senantiasa mengingat negeri Wajo selama perantauan. Lalu La Maddukkelleng ditanya tentang bekal yang akan dibawa, ia menjawab bahwa ada tiga bekal yang akan dibawa serta yaitu: pertama lemahnya lidahku, kedua tajamnya ujung kerisku dan yang ketiga ujung kelaki-lakianku.
Dengan disertai pengikut-pengikutnya La Maddukkelleng berangkat dari Peneki dengan menggunakan perahu layar menuju Johor (Malaysia sekarang). Lontarak Sukunna Wajo memberitakan bahwa La Maddukkelleng dalam perjalanan bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko, seorang saudagar kaya Johor. Hal ini membuktikan bahwa lama sebelumnya orang-orang Wajo sudah merambah jauh negeri orang. La Maddukkelleng diperkirakan merantau pada masa akhir pemerintahan Raja Bone La Patauk Matanna Tikka Nyilinna Walinonoe, yang merangkap sebagai Datu Soppeng dan Ranreng Tuwa Wajo, sekitar tahun 1714
La Maddukkelleng di Perantauan
Dalam perjalanan rombongan tersebut, masih memegang adat tata dan norma kerajaan Wajo, La Maddukkelleng sebagai pimpinan. La Maddukkelleng mengangkat To Assa sebagai panglimanya. Mereka membangun armada laut yang terus mengacaukan pelayaran di Selat Makassar. Dalam perantauan ini juga La Maddukkelleng kawin dengan puteri Raja Pasir. Sementara itu salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai (Sultan Muhammad Idris).
Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone, tapi Wajo sudah siap dengan pasukan dan peralatan. Saat itu La Maddukkelleng menjadi Sultan Pasir, bertekad kembali ke Wajo memenuhi panggilan tanah leluhurnya, meskipun menghadapi banyak pertempuran.
Perjuangan dari Pasir kembali ke Wajo
Setelah itu La Maddukkelleng mengumpulkan kekuatan persenjataan dan armada yang berkekuatan perahu jenis bintak, perahu ini sengaja dipilih karena bisa cepat dan laju digerakkan. Perahu yang digunakan tersebut dilengkapi dengan meriam-meriam baru yang dibelinya dari orang-orang Inggris. Anggota pasukan La Maddukkelleng dibagi atas dua kelompok, yaitu pasukan laut (marinir) yang dipimpin oleh La Banna To Assa (kapitang laut) dan pasukan darat dipimpin oleh Panglima Puanna Pabbola dan Panglima Cambang Balolo. Pasukan istimewa tersebut seluruhnya merupakan orang-orang terlatih dan sangat berpengalaman dalam pertempuran laut dan darat di Semenanjung Malaya dan perairan antara Johor dengan Sulawesi. Pasukan ini terdiri atas suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan.
Armada La Maddukkelleng berangkat menuju Makassar melalui Mandar dan kemudian terlebih dahulu mampir di Pulau Sabutung. Dalam Desertasi Noorduyn dipaparkan bahwa dalam perjalanan menuju Makassar, dua kali armada La Maddukkelleng diserang oleh armada Belanda yaitu pada tanggal 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Dalam catatan Raja Tallo diberitakan bahwa armada Belanda yang terdiri dari enam buah perahu perang dapat dipukul mundur, perang ini berlangsung selama dua hari.
Lontarak Sukkuna Wajo menyatakan bahwa ketika armada La Maddukkelleng sedang berlayar antara pulau Lae-lae dan Rotterdam, pasukan Belanda yang berada di Benteng tersebut menembakinya dengan meriam-meriam. Armada La Maddukkelleng membalas tembakan meriam itu dengan gencar. Gubernur Makassar, Johan Santijn (1733-1737) mengirim satu pasukan orang-orang Belanda yang ditemani oleh Ancak Baeda Kapitang Melayu menuju pulau Lae-lae. Hampir seluruh pasukan tersebut ditewaskan oleh La Maddukkelleng bersama pasukannya. Melalui pelabuhan Gowa dia diterima oleh kawan seperjuangannya I Mappasempek Daeng Mamaro, Karaeng Bontolangkasa yang sebelumnya sudah dikirimi surat. Lalu kemudian Tumabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa, I Megana juga datang menemui La Maddukkelleng. Kemudian diadakanlah pertemuan yang membicarakan rencana strategis dan taktik menghadapi tentara Belanda.
Setelah armada VOC tidak dapat mengalahkan armada La Maddukkelleng, mereka melanjutkan pelayaran menuju Bone dan tiba di Ujung Palette. Ratu Bone We Bataru Toja, yang merangkap jabatan Datu Soppeng, sejak tahun 1667 menjadi sekutu Belanda, mengirim pasukan untuk menghadang armada La Maddukkelleng, dan menyampaikan bahwa topasalanna Bone (orang bersalah terhadap Bone) dilarang masuk melalui sungai Cenrana. Suruhan La Maddukkelleng menyampaikan balasan bahwa La Maddukkelleng, Sultan Pasir, menghormati raja perempuan dan tidak akan melalui sungai Cenrana, tetapi melalui Doping (wilayah Wajo) ke Singkang. Dalam Musyawarah dengan Arum Pone (merangkap Datu Soppeng), Arung Matowa Wajo mendapat tekanan dari Raja Bone untuk menyerang dan tidak memberi kesempatan masuk. Arung Matowa Wajo menjawab bahwa berdasarkan perjanjian pemerintahan di Lapaddeppa antara Arung Saotanre La Tiringeng To Taba dengan rakyat Wajo (1476) yang berbunyi Wajo adalah negeri mereka dimana hak-hak asasi rakyat dijamin.
Dengan melalui proses negoisasi dan dengan persiapan yang mantap, La Maddukkelleng dengan pasukannya masuk melalui Doping. Tanggal 24 Mei 1736 ditambah dengan tambahan pasukan 100 (seratus) orang Wajo, sehingga diperkirakan kurang lebih 700 (tujuh ratus) orang ketika tiba di Singkang. Karena La Maddukkelleng masih menghormati Hukum Adat Tellumpoccoe (persekutuan antara Wajo, Soppeng dan Bone), dia berangkat ke Tosora untuk menghadiri persidangan dengan kawalan 1.000 orang. Tuduhan pun dibacakan yang isinya mengungkap tuduhan perbuatan La Maddukkelleng mulai dari sebab meninggalkan negeri Bugis sampai pertempuran yang dialaminya melawan Belanda. La Maddukkelleng lalu membela diri dengan alasan-alasan rasional dan menyadarkan akan posisi orang Bugis dihadapan Belanda. Karena demikian maka tidak mendapat tanggapan dari Majelis Pengadilan Tellumpoccoe.
La Maddukkelleng kemudian ke Peneki memangku jabatan Arung yang diwariskan ayahnya, namun dalam perjalanan tidak dapat dihindari terjadinya peperangan dengan kekalahan di pihak pasukan Bone. La Maddukkelleng dijuluki “petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe” yang artinya tuan/orang yang memerdekakan tanah Wajo dan rakyatnya. Karena La Salewangeng (pemangku Arung Matowa Wajo) usianya sudah cukup lanjut untuk menyelesaikan segala persoalan, maka melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Pengangkatannya di Paria pada hari Selasa tanggal 8 November 1736. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo
sumber :http://ahmade.com/tokoh-bugis-la-maddukelleng/ Read More..
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam (mappabbitte).Pada saat berlangsungnya pesta sambung ayam tersebut, ayam putera Raja Bone mati dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut sama kuatnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan. Pada saat itu La Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut yang mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang Wajo-Bone di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan belum sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di wilayah kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri melalui Sungai Walennae.
Setibanya Arung Matowa Wajo La Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng diserahkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya (dianggap bersalah). Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng tidak kembali ke Wajo sejak peristiwa di Cenrana. Utusan raja Bone itu kembali sekalipun ia yakin bahwa La Maddukkelleng masih berada di daerah Wajo, namun tidak dapat berbuat banyak karena adanya ikrar antara Bone, Soppeng dan Wajo di Timurung pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling mempercayai.
La Maddukkelleng datang menghadap dan meminta restu Arung Matowa Wajo dan Dewan Pemerintah Wajo (arung bentempola) untuk berlayar meninggalkan daerah Wajo. Saat itu bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung tempat penyimpanan harta kekayaan di sebelah timur masjid Tosora serta gedung padi di tiga limpo. Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (La Tenri Wija Daeng Situju) berpesan agar senantiasa mengingat negeri Wajo selama perantauan. Lalu La Maddukkelleng ditanya tentang bekal yang akan dibawa, ia menjawab bahwa ada tiga bekal yang akan dibawa serta yaitu: pertama lemahnya lidahku, kedua tajamnya ujung kerisku dan yang ketiga ujung kelaki-lakianku.
Dengan disertai pengikut-pengikutnya La Maddukkelleng berangkat dari Peneki dengan menggunakan perahu layar menuju Johor (Malaysia sekarang). Lontarak Sukunna Wajo memberitakan bahwa La Maddukkelleng dalam perjalanan bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko, seorang saudagar kaya Johor. Hal ini membuktikan bahwa lama sebelumnya orang-orang Wajo sudah merambah jauh negeri orang. La Maddukkelleng diperkirakan merantau pada masa akhir pemerintahan Raja Bone La Patauk Matanna Tikka Nyilinna Walinonoe, yang merangkap sebagai Datu Soppeng dan Ranreng Tuwa Wajo, sekitar tahun 1714
La Maddukkelleng di Perantauan
Dalam perjalanan rombongan tersebut, masih memegang adat tata dan norma kerajaan Wajo, La Maddukkelleng sebagai pimpinan. La Maddukkelleng mengangkat To Assa sebagai panglimanya. Mereka membangun armada laut yang terus mengacaukan pelayaran di Selat Makassar. Dalam perantauan ini juga La Maddukkelleng kawin dengan puteri Raja Pasir. Sementara itu salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai (Sultan Muhammad Idris).
Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone, tapi Wajo sudah siap dengan pasukan dan peralatan. Saat itu La Maddukkelleng menjadi Sultan Pasir, bertekad kembali ke Wajo memenuhi panggilan tanah leluhurnya, meskipun menghadapi banyak pertempuran.
Perjuangan dari Pasir kembali ke Wajo
Setelah itu La Maddukkelleng mengumpulkan kekuatan persenjataan dan armada yang berkekuatan perahu jenis bintak, perahu ini sengaja dipilih karena bisa cepat dan laju digerakkan. Perahu yang digunakan tersebut dilengkapi dengan meriam-meriam baru yang dibelinya dari orang-orang Inggris. Anggota pasukan La Maddukkelleng dibagi atas dua kelompok, yaitu pasukan laut (marinir) yang dipimpin oleh La Banna To Assa (kapitang laut) dan pasukan darat dipimpin oleh Panglima Puanna Pabbola dan Panglima Cambang Balolo. Pasukan istimewa tersebut seluruhnya merupakan orang-orang terlatih dan sangat berpengalaman dalam pertempuran laut dan darat di Semenanjung Malaya dan perairan antara Johor dengan Sulawesi. Pasukan ini terdiri atas suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan.
Armada La Maddukkelleng berangkat menuju Makassar melalui Mandar dan kemudian terlebih dahulu mampir di Pulau Sabutung. Dalam Desertasi Noorduyn dipaparkan bahwa dalam perjalanan menuju Makassar, dua kali armada La Maddukkelleng diserang oleh armada Belanda yaitu pada tanggal 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Dalam catatan Raja Tallo diberitakan bahwa armada Belanda yang terdiri dari enam buah perahu perang dapat dipukul mundur, perang ini berlangsung selama dua hari.
Lontarak Sukkuna Wajo menyatakan bahwa ketika armada La Maddukkelleng sedang berlayar antara pulau Lae-lae dan Rotterdam, pasukan Belanda yang berada di Benteng tersebut menembakinya dengan meriam-meriam. Armada La Maddukkelleng membalas tembakan meriam itu dengan gencar. Gubernur Makassar, Johan Santijn (1733-1737) mengirim satu pasukan orang-orang Belanda yang ditemani oleh Ancak Baeda Kapitang Melayu menuju pulau Lae-lae. Hampir seluruh pasukan tersebut ditewaskan oleh La Maddukkelleng bersama pasukannya. Melalui pelabuhan Gowa dia diterima oleh kawan seperjuangannya I Mappasempek Daeng Mamaro, Karaeng Bontolangkasa yang sebelumnya sudah dikirimi surat. Lalu kemudian Tumabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa, I Megana juga datang menemui La Maddukkelleng. Kemudian diadakanlah pertemuan yang membicarakan rencana strategis dan taktik menghadapi tentara Belanda.
Setelah armada VOC tidak dapat mengalahkan armada La Maddukkelleng, mereka melanjutkan pelayaran menuju Bone dan tiba di Ujung Palette. Ratu Bone We Bataru Toja, yang merangkap jabatan Datu Soppeng, sejak tahun 1667 menjadi sekutu Belanda, mengirim pasukan untuk menghadang armada La Maddukkelleng, dan menyampaikan bahwa topasalanna Bone (orang bersalah terhadap Bone) dilarang masuk melalui sungai Cenrana. Suruhan La Maddukkelleng menyampaikan balasan bahwa La Maddukkelleng, Sultan Pasir, menghormati raja perempuan dan tidak akan melalui sungai Cenrana, tetapi melalui Doping (wilayah Wajo) ke Singkang. Dalam Musyawarah dengan Arum Pone (merangkap Datu Soppeng), Arung Matowa Wajo mendapat tekanan dari Raja Bone untuk menyerang dan tidak memberi kesempatan masuk. Arung Matowa Wajo menjawab bahwa berdasarkan perjanjian pemerintahan di Lapaddeppa antara Arung Saotanre La Tiringeng To Taba dengan rakyat Wajo (1476) yang berbunyi Wajo adalah negeri mereka dimana hak-hak asasi rakyat dijamin.
Dengan melalui proses negoisasi dan dengan persiapan yang mantap, La Maddukkelleng dengan pasukannya masuk melalui Doping. Tanggal 24 Mei 1736 ditambah dengan tambahan pasukan 100 (seratus) orang Wajo, sehingga diperkirakan kurang lebih 700 (tujuh ratus) orang ketika tiba di Singkang. Karena La Maddukkelleng masih menghormati Hukum Adat Tellumpoccoe (persekutuan antara Wajo, Soppeng dan Bone), dia berangkat ke Tosora untuk menghadiri persidangan dengan kawalan 1.000 orang. Tuduhan pun dibacakan yang isinya mengungkap tuduhan perbuatan La Maddukkelleng mulai dari sebab meninggalkan negeri Bugis sampai pertempuran yang dialaminya melawan Belanda. La Maddukkelleng lalu membela diri dengan alasan-alasan rasional dan menyadarkan akan posisi orang Bugis dihadapan Belanda. Karena demikian maka tidak mendapat tanggapan dari Majelis Pengadilan Tellumpoccoe.
La Maddukkelleng kemudian ke Peneki memangku jabatan Arung yang diwariskan ayahnya, namun dalam perjalanan tidak dapat dihindari terjadinya peperangan dengan kekalahan di pihak pasukan Bone. La Maddukkelleng dijuluki “petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe” yang artinya tuan/orang yang memerdekakan tanah Wajo dan rakyatnya. Karena La Salewangeng (pemangku Arung Matowa Wajo) usianya sudah cukup lanjut untuk menyelesaikan segala persoalan, maka melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Pengangkatannya di Paria pada hari Selasa tanggal 8 November 1736. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo
sumber :http://ahmade.com/tokoh-bugis-la-maddukelleng/ Read More..
Kamis, 28 April 2011
INTEGRASI SOPPENG RILAU KE SOPPENG RIAJA HINGGA MUNCULNYA KERAJAAN SOPPENG
MUNCULNYA KERAJAAN SOPPENG
Oleh : H.A. Ahmad Saransi
Awal keberadaan
Dengan kemunculan Tomanurung dari Sekkanyili’ (Soppeng Riaja) dan Manurunnge dari Goarié (Kerajaan Soppeng Rilau) merupakan fase awal dari ketenangan dan ketentraman masyarakat Soppeng sejak dilanda kemarau yang panjang. Kehidupan masyarakat kedua kerajaan tersebut senantiasa tentram dan damai sebagaimana layaknya dua orang bersaudara kembar. Hal ini tidak mengherankan, karena Kerajaan Soppeng Riaja sebagai pusat aktifitas politik mampu membina secara harmonis hubungan politiknya dan kekeluargaan dengan kerajaan Soppeng Rilau.
Fase kedamaian ini berlangsung hingga kurang lebih 260 tahun lamanya, yaitu mulai tahun 1300 an sebagai masa awal Pemerintahan La Temmamala sebagai Datu I di Soppeng Riaja dan We Temmabubbu sebagai Datu I di Soppeng Rilau hingga terjadinya konflik perselisihan antara Datu La Mataesso Puang Lipué Patolaé dengan Datu La Makkarodda Latenribali masing-masing sebagai Datu di Soppeng Riaja dengan Soppeng Rilau.
Konflik
Menurut catatan dalam naskah lontara dikatakan bahwa, terjadinya konflik ini disebabkan keambisian La Makkarodda untuk menguasai wilayah Soppeng Riaja. Pertikaian ini meningkat menjadi perang saudara. Namun keambisian La Makkarodda ini tidak seluruh kerajaan lili-nya mendukung tindakan yang dilakukan La Makkarodda sehingga saat pecahnya perang saudara ini menyebabkan Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.
La Makkarodda sebagai Datu Soppeng Rilau tidak puas atas kekalahannya itu. Untuk membalas kekalahannya, dengan kekearasan hati ia terpaksa meninggalkan negerinya untuk mencari sekutu atau bala bantuan dari kerajaan tetangga.
Namun sebelum meninggalkan negerinya, telah datang perutusan dari Soppeng Riaja untuk meminta La Makkarodda agar sudihlah kiranya kembali ke negerinya untuk tetap memegang tampuk ke-Datu-an di Kerajaan Soppeng Rilau. Hal ini ditempu La Mata Esso untuk senantiasa menjaga persatuan dan kekeluargaan antara Kerajaan Sopeng Riaja dengan Kerajaan Soppeng Rilau.
Maksud baik La Mata Esso ditolak mentah-mentah oleh La Makkarodda, “Bessing Passuka, bessing topa parewekka” (saya keluar karena tombak (perang) maka saya pun hanya akan kembali dengan tombak (perang) pula). Itulah jawaban La Makkarodda terhadap perutusan itu hingga ia melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Bone untuk mencari persekutuan dan sekaligus meminta bantuan guna melawan kerajaan Soppeng Riaja. Akan tetapi setelah La Makkarodda mendekati kerajaan Bone, nampaknya niat itu tidak diterima dengan pertimbangan dari pihak Kerajaan Bone : “bila kami mendukung berarti memperpanjang konflik antara kerajaan Soppeng Riaja dengan Soppeng Rilau; disamping itu bila kami memberikan bantuan maka kelak Kerajaan Bone akan menjadi musuh dari Soppeng Riaja.”
Karena rencananya tidak diterima, maka La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di wilayah kerajaan Bone hingga suatu ketika La Makkarodda memperistrikan We Tenripakkuwa saudari kandung Raja Bone La Tenrirawe Bongkanngé.
Perkawinan La Makkarodda dengan We Tenripakkuwa berimplikasi terbukanya suatu kesempatan dalam rangka ikatan persahabatan antara kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Hal ini tercermin dari ungkapan penasehat Kerajaan Bone Kajao Lalliddong, “Saya merasa senang atas kebijaksanaanmu (taneng-tanengmu) itu menjodohkan adik kandungmu dengan Datu Mario (La Makkadordda). Apabila nantinya ada anak keturunannya kembali ke negeri Soppeng, maka sedapat mungkin diadakan ikatan persaudaraan antara tanah Sopppeng dengan tanah Bone”.
Betapa besar penghargaan Kajao lalliddong selaku penasehat dan diplomat Kerajaan Bone ini untuk mempersaudarakan negeri dan rakyat Kerajaan Bone dengan negeri dan rakyat Kerajaan Soppeng jika kelak dikemudian hari.
Federasi Soppeng Rilau bergabung dengan Soppeng Riaja
Sementara berlangsungnya perselisihan antara Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan Datu Soppeng Rilau La Makkkarodda, Arung Umpungeng datang menghadap Datu Soppeng Riaja. Namun sebelum pertemuannya dengan La Mataesso terlebih dahulu diterima oleh La Waniaga Arung Bila. Dalam pertemuan awal dengan Arung Bila itu, Arung Umpungeng menyatakan diri atas nama rakyat Umpungeng beralih ke Soppeng Riaja dan bernaung di bawah payung pemerintahan Datu Soppeng Riaja.
Disampaikan pula maksud kedatangannya, agar diberikan perlindungan oleh Soppeng Riaja, karena mereka tidak sudi bersekutu dengan orang yang berbuat kesalahan (maksudnya La Makkarodda), dan beliaupun bersumpah tidak akan menghianati La Mataesso. Maksud Kedatangan Arung Umpengeng tersebut kemudian disampaikan oleh Arung Bila kepada Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan beliaupun bersedia menerimanya pada pertemuan tingkat resmi selanjutnya.
Pada pertemuan tingkat resmi antara Arung Umpungeng dengan La Mataesso, beliau berjanji dan memohon kepada La Mataesso kiranya beliau diperkenankan bernaung di bawah payung kekuasaan Soppeng Riaja dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Maksud baik itu diterima dengan penuh ketulusan hati oleh Datu Soppeng Riaja La Mataesso, maka diadakanlah jamuan bersama dengan meminum tuak, hal mana kemudian dijadikan dasar pihak Arung Umpungeng untuk mengucapkan sumpah setianya kepada La Mataesso, “Adapun tuak sudah kuminum, hendaknya janganlah keluar melalui mulut dan tidak pula dengan lubang dubur atau penis, akan tetapi biarkanlah keluar ke samping (usus yang sobek) jika sekiranya aku ingkar janji”. Itulah sumpah setia Arung Umpungeng di hadapan La Mataesso sebagaimana tercantum dalam naskah lontara, dan seketika itu daerah Umpungeng sah berada di bawah payung kekuasaan Soppeng Riaja.
Beralihnya Umpungeng ke dalam wilayah Soppeng Riaja dengan melalui perjanjian politik seperti tersebut di atas, dengan sendirinya secara langsung membawa pengaruh yang sangat berarti dalam proses perkembangan politik dalam negeri Kerajaan Soppeng Rilau. Diantaranya, semakin lemahnya potensi dan kekuatan Soppeng Rilau, sementara kerajaan Soppeng Riaja menjadi semakin kuat. Dengan demikian akhirnya Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.
Intergrasi
Berkali-kali Datu Soppeng Riaja La Mataesso menempu upaya pedamaian dengan Datu Soppeng Rilau La Makkarodda. Upaya pertama sebagaimana telah dikemukakan di atas, namun upaya itu selalu ditolaknya dengan kekerasan hati. Penolakan ini dilandasi oleh keyakinannya bahwa ia mampu mengalahkan nanti Soppeng Riaja setelah mendapatkan bantuan dari kerajaan Bone mengingat kerajaan Bone waktu itu disamping kerajaan tentangga juga merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh dan cukup kuat dari segi pertahanan. Namun bantuan yang diimpikan itu tidak mendapat sambutan dari raja dan para bangsawan di Kerjaan Bone.
Dengan perasaan sangat kecewa Datu La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di Kerajaan Bone atas izin Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge.
Kemudian tawaran perdamaian kedua diajukan kepadanya untuk kembali memimpin kerajaan Soppeng Rilau setelah La Makkarodda berhasil mempersunting adik kandung Raja Bone La Tenrirawe. Niat baik berdamai ini ditolaknya dengan alasan demi menjaga terjadinya perselisihan dan pertikaian yang mungkin terulang lagi apabila beliau tetap memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Soppeng Rilau.
Perudingan perdamaian pertama dan kedua itu selalu ditawarkan atas inisiatif Datu Soppeng Riaja La Mataesso. Kenapa justru La Mataesso selalu menawarkan perdamaian kepada Datu Soppeng Rilau La Makkarodda untuk kembali memerintah Soppeng Rilau?. Disinilah tercermin bagaimana sikap dan kecintaan Datu Sopeng Riaja yang tetap berusaha menjaga persatuan dan kedamaian antara dua kerajaan. Disamping itu ia berusaha menghindari terjadinya peperangan yang meluas dan berkepanjangan itu dengan melibatkan pihak luar yaitu kerajaan Bone.
Namun dalam perkembangan selanjutnya ketika perundingan ketiga terjadi sangat berbeda sebelumnya, karena ternyata atas inisiatif Datu Soppeng Rilau La Makkarodda sendiri yang berinisiatif untuk melakukan perdamaian dengan Soppeng Riaja. Kesungguhan hati La Makkarodda untuk berdamai dengan La Mataesso dapat disimak dari makna sumpah dan janjinnya ketika bertemu dengan Topaccaleppa Taautongennge (penasehat kerajaan) dan juga ketika beliau bertemu dengan Datu La Mataesso. Dalam pertemuannya itu, beliau bersumpah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang sudah berlalu, yakni berniat tidak baik terhadap Kerajaan Soppeng Riaja, bahkan beliau juga mengajukan permohonan untuk kembali bermukim di Wilayah Kerajaan Soppeng tanpa memegang jabatan dan kedudukan apa pun. Mengenai soal tahta kerajaan di Soppeng baik di Soppeng Rilau maupun di Soppeng Riaja beliau juga berpesan kepada seluruh anak keturunannya kelak agar tidak menginginkannya lagi. Akan tetapi pada waktu itu tiba-tiba Datu Soppeng Riaja La Mataesso memegang tangannya La Makkarodda, sambil berkata, “saya kecualikan apabila terjalin ikatan tali perkawinan di antara anak cucu kita kelak di kemudian hari”.
Selanjutnya, pada waktu yang telah ditentukan, bersidanglah Dewan Adat yang dihadiri oleh rakyat dari Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja. Dari pertemuan tersebut mereka melakukan upacara Mallamung Patue sebagai simbol ikatan perjanjian persahabatan antara La Makkarodda dan La Mataesso yang kemudian ditanam secara bersama-sama yang dipersaksikan kepada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Esa) dan keduanya berjanji’ “Barangsiapa di antara kita yang ingkar janji, maka akan ditindih oleh batu itu serta tidak akan mendapatkan kebaikan sampai kepada anak keturunannya kelak”.
Dengan selesainya tahapan perjanjian perdamaian yang ketiga antara La Makkarodda dengan Lamataesso maka Soppeng memasuki era baru, yakni ditandai dengan berakhirnya kerajaan kembar di Soppeng dan selanjutnya menjadi satu kesatuan tunggal (mabbulo peppa) di bawah satu panji kebesaran dan satu orang raja berdaulat sebagai pemegang tampuk pemerintahan yaitu, “Kerajaan Soppeng”.
Sebagai hasil keputusan Dewan Adat maka diangkatlah La Mataesso Puang Lipue Patolae sebagai Datu Soppeng Bersatu (1560) dan La Makkarodda Totenribali diangkat menjadi pangepa’ (Perdana Menteri) Kerajaan Soppeng. Setelah kerajaan Soppeng Rilau berintegrasi dengan Soppeng Riaja, maka pusat kerajaan dipusatkan di Laleng Benteng.
Integrasi Kerajaan Soppeng Rilau ke dalam Soppeng Riaja, merupakan suatu proses penyatuan komponen-komponen sosial kultural yang berbeda-beda kedalam satu hubungan dan jalinan yang terintegrasi serta menjadi kebulatan yang utuh untuk mencapai suatu identitas baru sebagai suatu kerajaan yang bersatu. Ini berarti, bahwa integrasi bukanlah merupakan konkolusi dari komponen-komponen yang berbeda-beda saja, tetapi juga yang paling esensial adalah semangat laten dan konkret yang dapat dimanifestasikan ke dalam suatu tindakan nyata untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu “perdamaian”.
Refleksi
ketika dalam kondisi kekinian dalam menghadapi PILKADA Soppeng yang akan berlangsung tahun 2010, aroma perang saudara itu kembali diherhembuskan untuk mendapatkan kepentingan sesat, maka kita harus merefleksi diri untuk arif dan bijak melihat realitas obyektifnya bahwa persoalan itu sudah final dan kita tidak boleh lagi mengorek luka lama yang sudah sembuh. Perang terkadang tidak boleh diartikan sebagai sebagai akibat dari luapan politik tetapi “hukum masyarakat”, sesuatu yang harus terjadi sebagai jembatan bagi suatu proses perubahan masyarakat. “assyabiyah” perubahan kata ibnu kaldun dalam bukunya Muqaddimah.
Kita tidak boleh melihat peristiwanya, melainkan kita harus menarik hikmah dibalik peristiwa yang pada masa lampu tersebut. Bukankah sejarah adalah guru kehidupan ? (Historya Magistra Vitae).
Dari perang saudara yang pernah terjadi itu telah mengajarkan kita tiga hal :
1. Antara La Makkarodda dan Mataesso adalah pemimpin yang visioner, mampu melihat ke depan bagaimana membuat perencanaan strategis jangka panjang agar kedua rumpun rakyatnya kian maju, bukan terprosok mundur ke lembah perang saudara. Keduanya telah berpikir jauh menembus batas kepentingan generasinya. Capaian visinya tergambar dari kerelaan meleburkan kedua identias kerajaannya menjadi kerajaan Soppeng.
2. Mampu menggerakkan orang-orang terdekatnya sehingga muncul teamwork yang solid dan antusias untuk melaksanakan visinya.
3. Keduanya memiliki inisiatif yang bisa dijelaskan kepada orang lain sehingga memperoleh dukungan luas dari rakyatnya.
Olehnya itu, saya sangat prihatin bila hal perang saudara itu dijadikan komoditas politik untuk merai kepentingan sesaat, bila hal ini benar terjadi maka orang Soppeng telah melakukan pengingkaran nilai sejarahnya yang sudah mapan, dan lebih daripada itu, saya berani mengatakan bahwa, kini orang Soppeng telah mengalami degradasi pemikiran politik ke jaman primitf.
Perlu kita sadari bersama bahwa pendekian masyarakat Soppeng masih jauh, ritual PILKADA dari waktu kewaktu harus dilaksanakan karena merupakan prasyarat tegaknya demokrasi. Namun, ribut-ribut politik dan demokrasi tanpa visi, program strategis jangka panjang dan minus actor politik yang berkualitas hanya akan menghabiskan energi.
Semoga suhu politik yang mulai memanas akan melahirkan pikiran cerdas, visioner, dan mendorong tampilnya putra-putra Soppeng yang segar dan terbaik.
H. A. Ahmad Saransi
Peraih Celebes Awards 2007
Read More..
Oleh : H.A. Ahmad Saransi
Awal keberadaan
Dengan kemunculan Tomanurung dari Sekkanyili’ (Soppeng Riaja) dan Manurunnge dari Goarié (Kerajaan Soppeng Rilau) merupakan fase awal dari ketenangan dan ketentraman masyarakat Soppeng sejak dilanda kemarau yang panjang. Kehidupan masyarakat kedua kerajaan tersebut senantiasa tentram dan damai sebagaimana layaknya dua orang bersaudara kembar. Hal ini tidak mengherankan, karena Kerajaan Soppeng Riaja sebagai pusat aktifitas politik mampu membina secara harmonis hubungan politiknya dan kekeluargaan dengan kerajaan Soppeng Rilau.
Fase kedamaian ini berlangsung hingga kurang lebih 260 tahun lamanya, yaitu mulai tahun 1300 an sebagai masa awal Pemerintahan La Temmamala sebagai Datu I di Soppeng Riaja dan We Temmabubbu sebagai Datu I di Soppeng Rilau hingga terjadinya konflik perselisihan antara Datu La Mataesso Puang Lipué Patolaé dengan Datu La Makkarodda Latenribali masing-masing sebagai Datu di Soppeng Riaja dengan Soppeng Rilau.
Konflik
Menurut catatan dalam naskah lontara dikatakan bahwa, terjadinya konflik ini disebabkan keambisian La Makkarodda untuk menguasai wilayah Soppeng Riaja. Pertikaian ini meningkat menjadi perang saudara. Namun keambisian La Makkarodda ini tidak seluruh kerajaan lili-nya mendukung tindakan yang dilakukan La Makkarodda sehingga saat pecahnya perang saudara ini menyebabkan Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.
La Makkarodda sebagai Datu Soppeng Rilau tidak puas atas kekalahannya itu. Untuk membalas kekalahannya, dengan kekearasan hati ia terpaksa meninggalkan negerinya untuk mencari sekutu atau bala bantuan dari kerajaan tetangga.
Namun sebelum meninggalkan negerinya, telah datang perutusan dari Soppeng Riaja untuk meminta La Makkarodda agar sudihlah kiranya kembali ke negerinya untuk tetap memegang tampuk ke-Datu-an di Kerajaan Soppeng Rilau. Hal ini ditempu La Mata Esso untuk senantiasa menjaga persatuan dan kekeluargaan antara Kerajaan Sopeng Riaja dengan Kerajaan Soppeng Rilau.
Maksud baik La Mata Esso ditolak mentah-mentah oleh La Makkarodda, “Bessing Passuka, bessing topa parewekka” (saya keluar karena tombak (perang) maka saya pun hanya akan kembali dengan tombak (perang) pula). Itulah jawaban La Makkarodda terhadap perutusan itu hingga ia melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Bone untuk mencari persekutuan dan sekaligus meminta bantuan guna melawan kerajaan Soppeng Riaja. Akan tetapi setelah La Makkarodda mendekati kerajaan Bone, nampaknya niat itu tidak diterima dengan pertimbangan dari pihak Kerajaan Bone : “bila kami mendukung berarti memperpanjang konflik antara kerajaan Soppeng Riaja dengan Soppeng Rilau; disamping itu bila kami memberikan bantuan maka kelak Kerajaan Bone akan menjadi musuh dari Soppeng Riaja.”
Karena rencananya tidak diterima, maka La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di wilayah kerajaan Bone hingga suatu ketika La Makkarodda memperistrikan We Tenripakkuwa saudari kandung Raja Bone La Tenrirawe Bongkanngé.
Perkawinan La Makkarodda dengan We Tenripakkuwa berimplikasi terbukanya suatu kesempatan dalam rangka ikatan persahabatan antara kerajaan Bone dengan kerajaan Soppeng. Hal ini tercermin dari ungkapan penasehat Kerajaan Bone Kajao Lalliddong, “Saya merasa senang atas kebijaksanaanmu (taneng-tanengmu) itu menjodohkan adik kandungmu dengan Datu Mario (La Makkadordda). Apabila nantinya ada anak keturunannya kembali ke negeri Soppeng, maka sedapat mungkin diadakan ikatan persaudaraan antara tanah Sopppeng dengan tanah Bone”.
Betapa besar penghargaan Kajao lalliddong selaku penasehat dan diplomat Kerajaan Bone ini untuk mempersaudarakan negeri dan rakyat Kerajaan Bone dengan negeri dan rakyat Kerajaan Soppeng jika kelak dikemudian hari.
Federasi Soppeng Rilau bergabung dengan Soppeng Riaja
Sementara berlangsungnya perselisihan antara Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan Datu Soppeng Rilau La Makkkarodda, Arung Umpungeng datang menghadap Datu Soppeng Riaja. Namun sebelum pertemuannya dengan La Mataesso terlebih dahulu diterima oleh La Waniaga Arung Bila. Dalam pertemuan awal dengan Arung Bila itu, Arung Umpungeng menyatakan diri atas nama rakyat Umpungeng beralih ke Soppeng Riaja dan bernaung di bawah payung pemerintahan Datu Soppeng Riaja.
Disampaikan pula maksud kedatangannya, agar diberikan perlindungan oleh Soppeng Riaja, karena mereka tidak sudi bersekutu dengan orang yang berbuat kesalahan (maksudnya La Makkarodda), dan beliaupun bersumpah tidak akan menghianati La Mataesso. Maksud Kedatangan Arung Umpengeng tersebut kemudian disampaikan oleh Arung Bila kepada Datu Soppeng Riaja La Mataesso dan beliaupun bersedia menerimanya pada pertemuan tingkat resmi selanjutnya.
Pada pertemuan tingkat resmi antara Arung Umpungeng dengan La Mataesso, beliau berjanji dan memohon kepada La Mataesso kiranya beliau diperkenankan bernaung di bawah payung kekuasaan Soppeng Riaja dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Maksud baik itu diterima dengan penuh ketulusan hati oleh Datu Soppeng Riaja La Mataesso, maka diadakanlah jamuan bersama dengan meminum tuak, hal mana kemudian dijadikan dasar pihak Arung Umpungeng untuk mengucapkan sumpah setianya kepada La Mataesso, “Adapun tuak sudah kuminum, hendaknya janganlah keluar melalui mulut dan tidak pula dengan lubang dubur atau penis, akan tetapi biarkanlah keluar ke samping (usus yang sobek) jika sekiranya aku ingkar janji”. Itulah sumpah setia Arung Umpungeng di hadapan La Mataesso sebagaimana tercantum dalam naskah lontara, dan seketika itu daerah Umpungeng sah berada di bawah payung kekuasaan Soppeng Riaja.
Beralihnya Umpungeng ke dalam wilayah Soppeng Riaja dengan melalui perjanjian politik seperti tersebut di atas, dengan sendirinya secara langsung membawa pengaruh yang sangat berarti dalam proses perkembangan politik dalam negeri Kerajaan Soppeng Rilau. Diantaranya, semakin lemahnya potensi dan kekuatan Soppeng Rilau, sementara kerajaan Soppeng Riaja menjadi semakin kuat. Dengan demikian akhirnya Kerajaan Soppeng Rilau mengalami kekalahan.
Intergrasi
Berkali-kali Datu Soppeng Riaja La Mataesso menempu upaya pedamaian dengan Datu Soppeng Rilau La Makkarodda. Upaya pertama sebagaimana telah dikemukakan di atas, namun upaya itu selalu ditolaknya dengan kekerasan hati. Penolakan ini dilandasi oleh keyakinannya bahwa ia mampu mengalahkan nanti Soppeng Riaja setelah mendapatkan bantuan dari kerajaan Bone mengingat kerajaan Bone waktu itu disamping kerajaan tentangga juga merupakan kerajaan yang sangat berpengaruh dan cukup kuat dari segi pertahanan. Namun bantuan yang diimpikan itu tidak mendapat sambutan dari raja dan para bangsawan di Kerjaan Bone.
Dengan perasaan sangat kecewa Datu La Makkarodda memutuskan untuk tinggal di Kerajaan Bone atas izin Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge.
Kemudian tawaran perdamaian kedua diajukan kepadanya untuk kembali memimpin kerajaan Soppeng Rilau setelah La Makkarodda berhasil mempersunting adik kandung Raja Bone La Tenrirawe. Niat baik berdamai ini ditolaknya dengan alasan demi menjaga terjadinya perselisihan dan pertikaian yang mungkin terulang lagi apabila beliau tetap memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Soppeng Rilau.
Perudingan perdamaian pertama dan kedua itu selalu ditawarkan atas inisiatif Datu Soppeng Riaja La Mataesso. Kenapa justru La Mataesso selalu menawarkan perdamaian kepada Datu Soppeng Rilau La Makkarodda untuk kembali memerintah Soppeng Rilau?. Disinilah tercermin bagaimana sikap dan kecintaan Datu Sopeng Riaja yang tetap berusaha menjaga persatuan dan kedamaian antara dua kerajaan. Disamping itu ia berusaha menghindari terjadinya peperangan yang meluas dan berkepanjangan itu dengan melibatkan pihak luar yaitu kerajaan Bone.
Namun dalam perkembangan selanjutnya ketika perundingan ketiga terjadi sangat berbeda sebelumnya, karena ternyata atas inisiatif Datu Soppeng Rilau La Makkarodda sendiri yang berinisiatif untuk melakukan perdamaian dengan Soppeng Riaja. Kesungguhan hati La Makkarodda untuk berdamai dengan La Mataesso dapat disimak dari makna sumpah dan janjinnya ketika bertemu dengan Topaccaleppa Taautongennge (penasehat kerajaan) dan juga ketika beliau bertemu dengan Datu La Mataesso. Dalam pertemuannya itu, beliau bersumpah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang sudah berlalu, yakni berniat tidak baik terhadap Kerajaan Soppeng Riaja, bahkan beliau juga mengajukan permohonan untuk kembali bermukim di Wilayah Kerajaan Soppeng tanpa memegang jabatan dan kedudukan apa pun. Mengenai soal tahta kerajaan di Soppeng baik di Soppeng Rilau maupun di Soppeng Riaja beliau juga berpesan kepada seluruh anak keturunannya kelak agar tidak menginginkannya lagi. Akan tetapi pada waktu itu tiba-tiba Datu Soppeng Riaja La Mataesso memegang tangannya La Makkarodda, sambil berkata, “saya kecualikan apabila terjalin ikatan tali perkawinan di antara anak cucu kita kelak di kemudian hari”.
Selanjutnya, pada waktu yang telah ditentukan, bersidanglah Dewan Adat yang dihadiri oleh rakyat dari Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja. Dari pertemuan tersebut mereka melakukan upacara Mallamung Patue sebagai simbol ikatan perjanjian persahabatan antara La Makkarodda dan La Mataesso yang kemudian ditanam secara bersama-sama yang dipersaksikan kepada Dewata Seuwae (Tuhan Yang Esa) dan keduanya berjanji’ “Barangsiapa di antara kita yang ingkar janji, maka akan ditindih oleh batu itu serta tidak akan mendapatkan kebaikan sampai kepada anak keturunannya kelak”.
Dengan selesainya tahapan perjanjian perdamaian yang ketiga antara La Makkarodda dengan Lamataesso maka Soppeng memasuki era baru, yakni ditandai dengan berakhirnya kerajaan kembar di Soppeng dan selanjutnya menjadi satu kesatuan tunggal (mabbulo peppa) di bawah satu panji kebesaran dan satu orang raja berdaulat sebagai pemegang tampuk pemerintahan yaitu, “Kerajaan Soppeng”.
Sebagai hasil keputusan Dewan Adat maka diangkatlah La Mataesso Puang Lipue Patolae sebagai Datu Soppeng Bersatu (1560) dan La Makkarodda Totenribali diangkat menjadi pangepa’ (Perdana Menteri) Kerajaan Soppeng. Setelah kerajaan Soppeng Rilau berintegrasi dengan Soppeng Riaja, maka pusat kerajaan dipusatkan di Laleng Benteng.
Integrasi Kerajaan Soppeng Rilau ke dalam Soppeng Riaja, merupakan suatu proses penyatuan komponen-komponen sosial kultural yang berbeda-beda kedalam satu hubungan dan jalinan yang terintegrasi serta menjadi kebulatan yang utuh untuk mencapai suatu identitas baru sebagai suatu kerajaan yang bersatu. Ini berarti, bahwa integrasi bukanlah merupakan konkolusi dari komponen-komponen yang berbeda-beda saja, tetapi juga yang paling esensial adalah semangat laten dan konkret yang dapat dimanifestasikan ke dalam suatu tindakan nyata untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu “perdamaian”.
Refleksi
ketika dalam kondisi kekinian dalam menghadapi PILKADA Soppeng yang akan berlangsung tahun 2010, aroma perang saudara itu kembali diherhembuskan untuk mendapatkan kepentingan sesat, maka kita harus merefleksi diri untuk arif dan bijak melihat realitas obyektifnya bahwa persoalan itu sudah final dan kita tidak boleh lagi mengorek luka lama yang sudah sembuh. Perang terkadang tidak boleh diartikan sebagai sebagai akibat dari luapan politik tetapi “hukum masyarakat”, sesuatu yang harus terjadi sebagai jembatan bagi suatu proses perubahan masyarakat. “assyabiyah” perubahan kata ibnu kaldun dalam bukunya Muqaddimah.
Kita tidak boleh melihat peristiwanya, melainkan kita harus menarik hikmah dibalik peristiwa yang pada masa lampu tersebut. Bukankah sejarah adalah guru kehidupan ? (Historya Magistra Vitae).
Dari perang saudara yang pernah terjadi itu telah mengajarkan kita tiga hal :
1. Antara La Makkarodda dan Mataesso adalah pemimpin yang visioner, mampu melihat ke depan bagaimana membuat perencanaan strategis jangka panjang agar kedua rumpun rakyatnya kian maju, bukan terprosok mundur ke lembah perang saudara. Keduanya telah berpikir jauh menembus batas kepentingan generasinya. Capaian visinya tergambar dari kerelaan meleburkan kedua identias kerajaannya menjadi kerajaan Soppeng.
2. Mampu menggerakkan orang-orang terdekatnya sehingga muncul teamwork yang solid dan antusias untuk melaksanakan visinya.
3. Keduanya memiliki inisiatif yang bisa dijelaskan kepada orang lain sehingga memperoleh dukungan luas dari rakyatnya.
Olehnya itu, saya sangat prihatin bila hal perang saudara itu dijadikan komoditas politik untuk merai kepentingan sesaat, bila hal ini benar terjadi maka orang Soppeng telah melakukan pengingkaran nilai sejarahnya yang sudah mapan, dan lebih daripada itu, saya berani mengatakan bahwa, kini orang Soppeng telah mengalami degradasi pemikiran politik ke jaman primitf.
Perlu kita sadari bersama bahwa pendekian masyarakat Soppeng masih jauh, ritual PILKADA dari waktu kewaktu harus dilaksanakan karena merupakan prasyarat tegaknya demokrasi. Namun, ribut-ribut politik dan demokrasi tanpa visi, program strategis jangka panjang dan minus actor politik yang berkualitas hanya akan menghabiskan energi.
Semoga suhu politik yang mulai memanas akan melahirkan pikiran cerdas, visioner, dan mendorong tampilnya putra-putra Soppeng yang segar dan terbaik.
H. A. Ahmad Saransi
Peraih Celebes Awards 2007
Read More..
Kamis, 20 Januari 2011
Asal Usul Raja Bugis
Dipercaya bahwa asal-usul raja-raja di Sulawesi Selatan berasal dari To Manurung(orang bunian) manusia yang berasal dari langit, turun ke bumi. To Manurung ini membawa segala kebesaran, kehormatan, dan kesaktiannya. Menurut riwayat kuno, daratan Sulawesi mengalami 3 kali kedatangan To Manurung. Siapa saja mereka?
PERISTIWA ‘pendaratan’ pertama:
dipercaya bahwa yang mula-mula menjejakkan kakinya di daratan Sulawesi ialah “Tamboro Langi”. Lelaki perkasa ini berdiri di puncak gunung Latimojong. Ketika itu, daratan Sulawesi masih tergenang air, hanya puncak gunung Lompobattang yang mencuat di sebelah selatan, dan puncak gunung Latimojong di tengah-tengah.
Tamboro Langi lalu memproklamirkan diri sebagai utusan dari langit untuk memimpin manusia. Dengan kata lain, dia mengangkat dirinya sebagai raja dan rakyat harus tunduk padanya.
Tamboro Langi kawin dengan Tande Bilik, yaitu seorang dewi yang muncul dari busa air sungai Saddang. Puteranya yang sulung bernama Sandaboro, beranakkan La Kipadada. La Kipadada inilah yang membangun 3 buah kerajaan besar, yakni: di Rongkong asal mulanya kerajaan Toraja, di Luwu asal mulanya kerajan Bugis, dan di Gowa asal mulanya kerajaan Makassar.
Laksana garis nasib setiap peradaban, setelah keturunannya mengalami masa kejayaan, kerajaan-kerajaan tersebut mengalami kemunduran yang berakibat kekacauan.
Untuk mengatasi kekacauan ini, ‘pendaratan’ kedua terjadi. Kali ini yang diutus masih seorang laki-laki bernama Batara Guru. Batara Guru kawin dengan We Nyilitimo, puteri dari Pertiwi (Bumi bawah) dan memperoleh putera yang diberi nama Batara Lattu. Batara Lattu kawin dengan We Opu Sengngeng, puteri dari Masyrik. Dari perkawinan mereka ini maka lahirlah puteranya yang bernama Sawerigading.
Sawerigading membentuk sebuah kerajaan besar (negara) yaitu kerajan Luwu di Palopo, yang di bawahnya terdiri dari kerajaan-kerajaan yang masing-masing merdeka dan berdaulat, seperti: Kerajaan Toraja, Palu, Ternate, Bone, Gowa, dll.
Kejayaan masa Sawerigading menemui pula kemunduran dan berakhir vakum; tujuh turunan lamanya tak ada raja si Sulawesi Selatan yang memerintah, sehingga yang memegang pemerintahan hanya penduduk isi dunia yang asli.
‘Pendaratan’ ketiga pun akhirnya tiba. Namun pendaratan kali ini terdapat beberapa orang To Manurung sekaligus pada beberapa tempat di tanah yang berbeda-beda, seperti di Toraja, Luwu, Bugis, dan Makassar, yang menjadi pokok asal raja-raja yang memangku kerajaan hingga saat ini.
To Manurung di Luwu bernama Sempurusiang, kawin dengan Pattiajala, puteri yang muncul dari air. To manurung di Bone bernama Matasilompoe, kawin dengan To Manurung perempuan di Toro. To Manurung di Gowa adalah seorang perempuan, kawin dengan Karaeng Bayo dari Pertiwi. To Manurung di Bacukiki memperistrikan To Manurung di Lawaramparang, dan turunannya menjadi raja di tanah-tanah sebelah barat danau Tempe (Ajatapparang) dan di sepanjang lereng gunung (Massinrinpulu).
Lalu, bagaimana corak pemerintahan mereka? Era Tamboro Langi’ adalah era pemerintahan yang absolute monarchi, yaitu kehendak raja saja yang jadi; rakyat cuma tahu tunduk dan menerima titah raja. Sementara pada peristiwa To manurung ketiga, corak pemerintahannya sudah agak demokrasi mesti diakui belum sempurna.
Peribahasa Bugis menyebutkan: “Makkeda tenribali, mette tenrisumpalang.” Artinya: “Berkata tak dapat dilawan, menyahut tak dapat disalahkan”. Gambaran akan sifat Absolute monarchie; apa yang dikatakan raja, itulah yang benar.
Namun sedikit berbeda ketika kejadian To Manurung di Gowa. Ketika To manurung menjejakkan kakinya di Tamalate, Patcallaya atas nama rakyat Gowa datang ke hadapan To Manurung, dan berkata: “Ana’mang, bainemang, iapa nakulle nipela, punna buttaya angkaeroki.” Artinya: Anak kami, istri kami, hanya dapat disingkirkan kalau tanah (rakyat) yang menghendaki.
Nampak di sini sifat-sifat demokrasi yang mulai berkembang ketika itu, bahwa seorang raja tidak bisa berbuat semaunya saja tanpa persetujuan adat. Hal ini dikuatkan oleh bukti ketika Tepu Karaeng Daeng Tarabung, Karaeng Bontolangkasa, raja Gowa ke XIII (1590-1593) diterjang gelombang pemberontakan oleh rakyatnya sendiri, lantaran memerintah secara zalim. Beliau ‘diusir’ dari kerajaannya pada tahun 1593.
sumber : rappang.com
Read More..
PERISTIWA ‘pendaratan’ pertama:
dipercaya bahwa yang mula-mula menjejakkan kakinya di daratan Sulawesi ialah “Tamboro Langi”. Lelaki perkasa ini berdiri di puncak gunung Latimojong. Ketika itu, daratan Sulawesi masih tergenang air, hanya puncak gunung Lompobattang yang mencuat di sebelah selatan, dan puncak gunung Latimojong di tengah-tengah.
Tamboro Langi lalu memproklamirkan diri sebagai utusan dari langit untuk memimpin manusia. Dengan kata lain, dia mengangkat dirinya sebagai raja dan rakyat harus tunduk padanya.
Tamboro Langi kawin dengan Tande Bilik, yaitu seorang dewi yang muncul dari busa air sungai Saddang. Puteranya yang sulung bernama Sandaboro, beranakkan La Kipadada. La Kipadada inilah yang membangun 3 buah kerajaan besar, yakni: di Rongkong asal mulanya kerajaan Toraja, di Luwu asal mulanya kerajan Bugis, dan di Gowa asal mulanya kerajaan Makassar.
Laksana garis nasib setiap peradaban, setelah keturunannya mengalami masa kejayaan, kerajaan-kerajaan tersebut mengalami kemunduran yang berakibat kekacauan.
Untuk mengatasi kekacauan ini, ‘pendaratan’ kedua terjadi. Kali ini yang diutus masih seorang laki-laki bernama Batara Guru. Batara Guru kawin dengan We Nyilitimo, puteri dari Pertiwi (Bumi bawah) dan memperoleh putera yang diberi nama Batara Lattu. Batara Lattu kawin dengan We Opu Sengngeng, puteri dari Masyrik. Dari perkawinan mereka ini maka lahirlah puteranya yang bernama Sawerigading.
Sawerigading membentuk sebuah kerajaan besar (negara) yaitu kerajan Luwu di Palopo, yang di bawahnya terdiri dari kerajaan-kerajaan yang masing-masing merdeka dan berdaulat, seperti: Kerajaan Toraja, Palu, Ternate, Bone, Gowa, dll.
Kejayaan masa Sawerigading menemui pula kemunduran dan berakhir vakum; tujuh turunan lamanya tak ada raja si Sulawesi Selatan yang memerintah, sehingga yang memegang pemerintahan hanya penduduk isi dunia yang asli.
‘Pendaratan’ ketiga pun akhirnya tiba. Namun pendaratan kali ini terdapat beberapa orang To Manurung sekaligus pada beberapa tempat di tanah yang berbeda-beda, seperti di Toraja, Luwu, Bugis, dan Makassar, yang menjadi pokok asal raja-raja yang memangku kerajaan hingga saat ini.
To Manurung di Luwu bernama Sempurusiang, kawin dengan Pattiajala, puteri yang muncul dari air. To manurung di Bone bernama Matasilompoe, kawin dengan To Manurung perempuan di Toro. To Manurung di Gowa adalah seorang perempuan, kawin dengan Karaeng Bayo dari Pertiwi. To Manurung di Bacukiki memperistrikan To Manurung di Lawaramparang, dan turunannya menjadi raja di tanah-tanah sebelah barat danau Tempe (Ajatapparang) dan di sepanjang lereng gunung (Massinrinpulu).
Lalu, bagaimana corak pemerintahan mereka? Era Tamboro Langi’ adalah era pemerintahan yang absolute monarchi, yaitu kehendak raja saja yang jadi; rakyat cuma tahu tunduk dan menerima titah raja. Sementara pada peristiwa To manurung ketiga, corak pemerintahannya sudah agak demokrasi mesti diakui belum sempurna.
Peribahasa Bugis menyebutkan: “Makkeda tenribali, mette tenrisumpalang.” Artinya: “Berkata tak dapat dilawan, menyahut tak dapat disalahkan”. Gambaran akan sifat Absolute monarchie; apa yang dikatakan raja, itulah yang benar.
Namun sedikit berbeda ketika kejadian To Manurung di Gowa. Ketika To manurung menjejakkan kakinya di Tamalate, Patcallaya atas nama rakyat Gowa datang ke hadapan To Manurung, dan berkata: “Ana’mang, bainemang, iapa nakulle nipela, punna buttaya angkaeroki.” Artinya: Anak kami, istri kami, hanya dapat disingkirkan kalau tanah (rakyat) yang menghendaki.
Nampak di sini sifat-sifat demokrasi yang mulai berkembang ketika itu, bahwa seorang raja tidak bisa berbuat semaunya saja tanpa persetujuan adat. Hal ini dikuatkan oleh bukti ketika Tepu Karaeng Daeng Tarabung, Karaeng Bontolangkasa, raja Gowa ke XIII (1590-1593) diterjang gelombang pemberontakan oleh rakyatnya sendiri, lantaran memerintah secara zalim. Beliau ‘diusir’ dari kerajaannya pada tahun 1593.
sumber : rappang.com
Read More..
